Oleh: rijalpurwailmiawan | Mei 5, 2009

Ekosistem Perairan Mengalir

Laporan Praktikum                        Hari/Tanggal  : Minggu, 29 Maret 2009

m.a. Ekologi Perairan                    Asisten            : Rahmi Dina S.Pi

Ahmad Mahtadi S.Pi

Glasnosta Ramadhan

KARAKTERISTIK EKOSISTEM PERAIRAN MENGALIR

(Studi Kasus: Sungai Cihideung, Bogor)

Oleh:

Kelompok 2 IKN A1

Inne Veronica Duma     J3H108006

Yaumi Purwigafrina      J3H108023

Muzakir Rahim              J3H108028

Rijal Purwa Ilmiawan    J3H108032

Agung Ady Setyawan J3H108059

TEKNOLOGI PRODUKSI DAN MENEJEMEN PERIKANAN BUDIDAYA

DIRERKTORAT PROGRAM DIPLOMA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

I.              PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Sungai, merupakan tempat air mengalir yang berasal dari mata air dan membawa kebutuhan hidup manusia dan berbagai mahkluk lain yang dilaluinya, merupakan bagian dari ekosistem air tawar. Selain itu sungai memiliki peranan langsung dalam kehidupan manusia dan mahkluk disekitarnya

Pada peraktikum ini kami mengadakan pengambilan sampel di Sungai Cihideung, Bogor. Sungai Cihideung merupakan perairan mengalir yang memiliki faktor-faktor yang berpengaruh berdasarkan literatur meliputi ; Suhu, Kejernihan, Arus, Konsentrasi gas pernafasan, dan Konsentrasi garam biogenik. Dalam hal ini arus meruakan faktor yang paling mengandalikan dan merupakan faktor pembatas di aliran air (E. P. Odum, 1998)

Praktikum yang dilakukan pada perairan mengalir ini di latar belakangi karena betapa pentingnya peranan sungai dalam ekosistem kehidupan selain itu mengajak kepada mahasiswa agar peduli terhadap kebersihan dan kelestarian ekosistem perairan mengalir demi keseimbangan ekositem itu sendiri. Diharapkan agar mahasiswa program keahlian Teknologi Produksi Dan Manajemen Perikanan Budidaya dapat mengaplikasikan pemanfaatan sungai yang berhubungan dengan budidaya perikanan.

1.2 Tujuan

Praktikum kali ini bertujuan untuk mengenalkan dan mempelajari komponen-komponen penyusun ekosistem perairan mengalir, serta mempelajari interaksi dan hubungan timbal balik antar komponen penyusun ekosistem tersebut. Selain itu, praktikan juga Mempelajari pengaruh lingkungan terhadap komponen penyusun ekosistem terutama terhadap keanekaragaman biota didalamnya.

II.  TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ekosistem Peraian Mengalir

Ekosistem perairan mengalir (lotic) merupakan bagian dari habitat air tawar. Air mengalir, atau habitat lotic ( berasal dari kata lotus yang berarti “tercuci” ) seperti mata air, aliran air atau sungai (E. P. Odum,1998).

Sungai adalah aliran air tawar yang bersumber alamiah di daratan yang mengalir menuju dan bermuara di danau, laut atau samudra. Daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu daerah yang terhampar disisi kiri dan kanan dari suatu aliran sungai (http://smulab.tripod.com/strukturbumi.htm).

Sungai dapat di klasifikasikan menjadi dua yaitu berdasarkan asal air dan berdasarkan letak alirannya. Berdasarkan asal air terdapat sungai mata air yaitu sungai yang airnya bersumber dari mata air alami, sungai air hujan, sungai pencairan es/ salju, dan sungai campuran. Sedangkan berdasarkan letak alirannya sungai dibedakan menjadi ; sungai di atas permukaan tanah, sungai bawah tanah, dan sungai campuran.

Dalam aliran sungai dari hulu hingga hilir atau muara, sungai memiliki beberapa pola aliran sungai yaitu ; Pola aliran dendritik, adalah pola aliran yang berbentuk seperti pohon, Pola aliran rektanguler yaitu pola aliran yang alirannya melalui daerah patahan, Pola aliran trellis yaitu pola aliran pada beberapa sungai yang mendapat tambahan air dari anak sungainya dimana arah alirannya tegak lurus dengan sungai tersebut, Pola aliran radial, yaitu pola aliran yang terjadi jika beberapa sungai mengalir ke luar dari gunung atau sebuah dome, dan yang terakhir Pola aliran anular yaitu pola aliran yang merupakan variasi dari pola radial.

Sungai dibagi menjadi Dua zona berdasarkan aliran sungainya yaitu Zona air deras dan zona air tenang. Zona air deras adalah daerah yang dangkal dimana kecepatan arusnya cukup tinggi sehingga menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lain yang lepas  sehingga dasarnya padat. Zona air tenang adalah bagian sungai yang dalam dimana kecepatan arus sudah berkurang maka lumpur dam materi lepas dan cenderung mengendap di dasar sehingga endapannya lunak.Dari pola aliran sungai tersebut, sungai dapat membentuk Meander, yaitu bentuk aliran sungai yang berkelok-kelok. Ciri dari suatu rangkaian meander adalah adanya leher meander (bagian yang menyempit) yang dapat menghasilkan potongan beerbentuk tapal kuda dan disebut sebagai danau tapal kuda. Selain Meander sungai juga dapat membentuk delta. Delta merupakan suatu daratan yang terletak di muara sungai, yang terpisah dari laut dan terdiri dari endapan hasil pengikisan air sungai. Dalam kehidupan mahkluk hidup, sungai berfungsi sebagai sumber keanekaragaman hayati yang digunakan untuk irigasi (pengairan sawah dan tambak), pemenuhan kebutuhan sumber air minum, tempat mandi, cuci, kakus, sumber daya perikanan sebagai media transportasi air, sumber energi yaitu (sumber pembangkit listrik), sungai juga dapat digunakan sebagai sarana rekreasi dan olahraga (arum jeram dan pemancingan).

2.2 Parameter Fisika

2.2.1. Warna Perairan

Warna perairan adalah warna yang secara visual yang dapat kita lihat dari sebuah perairan. Warna perairan dibagi menjadi dua yaitu warna tampak dan warna asli. Warna tampak adalah warna dari sebuah perairan yang disebabkan oleh partikel-partikel terlarut dan tersuspensi. Sedangkan warna asli merupakan warna yang disebabkan oleh bahan-bahan atau materi yang terbawa oleh aliran air sungai. Dalam perairan sungai, warna perairan dipengaruhi oleh materi-materi yang dibawa oleh aliran sungai.

2.2.2. Kecerahan

Dalam hal ini kecerahan merupakan parameter fisika yang berhubungan dengan fotosintesis karena pengaruh penetrasi cahaya yang masuk ke dalam aliran sungai.

Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa, dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman. Kekeruhan, terutama bila disebabkan oleh lumpur dan partikel yang dapat mengendap, seringkali penting sebagai faktor pembatas. Sebaliknya, bila kekeruhan disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktivitas (E. P. Odum, 1971)

2.2.3. Suhu

Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup.  Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu  tertentu.

Daerah perairan yang cukup luas dapat mempengaruhi iklim daerah daratan di sekitarnya.Suhu air paling baik dan efisien diukur menggunakan sensor elektronis seperti Air mempunyai beberapa sifat unik yang berhubungan dengan panas yang secara bersama-sama mengurani perubahan suhu sampai tingkat minimal, sehingga perbedaan suhu dalam air lebih kecil dan perubahan yang terjadi lebih lambat dari pada udara.

2.2.4.  Kedalaman

Kedalaman suatu ekosistem perairan dapat bervariasi tergantung pada zona kedalaman dari suatu perairan tersebut, semakin dalam perairan tersebut maka intensitas cahaya matahari yang masuk semakin berkurang. Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa, dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman (erikarianto.wordpress.com/2008/01/10/ekologi-air-tawar).

2.2.5. Tipe Substrat

Tipe substrat pada perairan mengalir pada sungai hulu berupa batu-batuan dan pasir, sedangkan pada sungai hilir tipe substratnya merupakan endapan lumpur.

Dalam pengamatan perairan mengalir tipe substrat yang banyak kita amati berupa batu dan pasir. Karena Sungai Cihideung merupakan jenis sungai yang beraliran deras karena masih terdapat di daerah hulu.

2.2.6. Kecepatan Arus

Arus merupakan faktor pembatas utama pada aliran deras, tetapi dasar yang keras, terutama bila terdiri dari batu, dapat menyediakan perubahan yang cocok untuk organisme (flora & fauna) untuk menempel & melekat (Odum,1988)

2.3. Parameter Kimia

2.3.1.  Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) merupakan parameter kimia yang menunjukan salinitas atau drajat keasaman dari suatu perairan dimana biota air dapat hidup didalamnya, pH yang ideal berkisar antar 6,5-8,5. Dimana setiap organisme air memiliki toleransi pH yang berbeda. Larutan atau air dikatakan asam jika pH-nya < 7, dikatan basa jika pH-nya > 7, sedangkan jika pH-nya = 7 maka larutan tersebut dikatakan seimbang (Purba, Michael. “Sains Kimia” .1994).

Derajat keasaman (pH) berpengaruh sangat besar terhadap tumbuhtumbuhan dan hewan air sehingga sering digunakan sebagai petunjuk untuk menyatakan baik atau tidaknya kondisi air sebagai media hidup. Apabila derajat keasaman tinggi apakah itu asam atau basa menyebabkan proses fisiologis pada plankton terganggu (Sachlan, M. 1972).

2.4. Parameter Biologi

2.4.1. Plankton

Plankton adalah hewan air yang hidup mengapung di atas permukaan air dimana pergerakannya tergantung pada arus. Sehingga gerakan hidupnya tergantung pada arus atau gelombang pada air.

Plankton terdiri atas fitoplankton dan zooplankton; biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti gerak aliran air. Plankton terbagi menjadi Fitoplankton dan Zooplankton. Fitoplankton terdiri atas ganggang, diatom, dan dinoflagelata. Zooplankton biasanya terdiri atas rotifera, cladocera, copepoda. Plankton adalah organisme yang berkuran kecil yang hidupnya terombang-ambing oleh arus. Mereka terdiri dari makhluk yang hidupnya sebagai hewan (zooplankton) dan sebagai tumbuhan (fitoplankton). Menurut Nybakken (1992) zooplankton ialah hewan-hewan laut yang planktonik sedangkan fitoplankton terdiri dari tumbuhan laut yang bebas melayang dan hanyut dalam laut serta mampu berfotosintesis. Plankton merupakan makanan alami larva organisme perairan. Sebagai produsen utama di perairan adalah fitoplankton, sedangkan organime konsumen adalah zooplankton, larva, ikan, udang, kepiting, dan sebagainya. Menurut Djarijah (1995), produsen adalah organisme yang memiliki kemampuan untuk menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi dalam melakukan aktivitas hidupnya, sedangkan konsumen adalah organisme yang menggunakan sumber energi yang dihasilkan oleh organisme lain (Dhani Dianthani Posted 3 May, 2003 Makalah Falsafah Sains (PPs 702) Program Pasca Sarjana /S3 Institut Pertanian Bogor).

Pada perairan mengalir plankton jarang ditemukan bahkan absen dari aliran air, karena organisme seperti ini tidak tahan oleh arus, plankton akan hidup hanya pada bagian aliran air yang bergerak perlahan dan di sungai yang besar plankton dapat berkembang biak dan menyatu sebagai bagian dari komunitas (E. P. Odum, 1998).

Peranan plankton di perairan sangat penting karena plankton merupakan pakan alami bagi ikan kecil dan hewan air lainnya. Plankton merupakan mata rantai utama dalam rantai makanan di perairan. Plankton dalam suatu perairan mempunyai peranan yang sangat penting. Plankton terdiri dari fitoplankton yang merupakan produsen utama dan dapat menghasilkan makanannya sendiri dan merupakan makanan bagi hewan seperti zoo, ikan udang dan kerang melalui proses fotosintesis dan zooplankton yang bersifat hewani dan beraneka ragam.

2.4.2. Perifiton

Perifiton merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung pada tumbuhan atau benda lain, misalnya keong. Dan bentos adalah hewan dan tumbuhan yang hidup pada endapan. Bentos dapat sessil (melekat) atau bergerak bebas, misalnya cacing dan remis.

Perifiton merupakan hewan yang ukurannya sangat kecil (mikroskopis), oleh karena itu perifiton tidak dapat dilihat oleh mata tanpa bantuan mikroskop. Perifiton adalah tumbuhan atau hewan yang tumbuh dan menempel pada objek yang tenggelam (E. P. Odum, 1998). Dalam perairan mengalir perifiton melekat pada substrat yang kokoh yang ada di sungai seperti batu, batang kayu, atau masa daun.

2.4.3. Benthos

Bentos merupakan organisme yang melekat atau beristirahat pada dasar endapan. Bentos dapat dibagi berdasarkan makananya menjadi pemakan penyaring seperti (kerang) dan pemakan deposit seperti ( siput ) (E. P. Odum, 1971). Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya.  Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu. karena hewan bentos terus menerus terdedah oleh air yang kualitasnya berubah-ubah.  Diantara hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro.  Kelompok ini lebih dikenal dengan makrozoobentos (Rosenberg dan Resh, 1993).

Makrozoobentos mempunyai peranan yang sangat penting dalam siklus nutrien di dasar perairan.  Montagna et all.  (1989) menyatakan bahwa dalam ekosistem perairan, makrozoobentos berperan sebagai salah satu mata rantai penghubung dalam aliran energi dan siklus dari alga planktonik sampai konsumen tingkat tinggi.

Bentos meliputi segala macam avertebrata air yang hidup di permukaan dasar perairan atau di dalam sedimen dasar perairan. Dasar perairan dapat berupa lumpur, batu, kerikil, baik di laut, sungai, maupun danau (Sugiarto Suwingnyo dan Majariana Krisanti).

2.4.4. Nekton

Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang dan pencernaan. Nekton merupakan organisme yang dapat bergerak dan nerenang dengan kemauan sendiri (dengan demikian dapat menghindari jaring plankton) contohnya seperti ikan, amfibi, serangga air besar dll (E. P. Odum, 1998).

2.4.5. Neuston

Neuston merupakan organisme yang mengapung atau berenang di permukaan air atau bertempat pada permukaan air, misalnya serangga air. Organisme yang tinggal atau beristirahat di atas permukaan air, yang pergerakannya tidak di pengaruhi oleh pergerakan arus (E. P. Odum, 1998)

2.4.6. Tumbuhan Air

Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggal di sekitar air dan di dalam air. Yang berfungsi sebagai produsen penghasil energi.

Tumbuhan air dapat dikelompokkan menjadi terrestrial plants adalah tumbuhan air yang seluruh organ tubuhnya belum tertutup oleh air, emerged plants adalah tumbuhan air yang akarnya berada dalam air dan bagian lainnya berada dipermukaan air, floating plants adalah tumbuhan air yang bagian akar dan batangnya berada dalam air , sedangkan daunnya mencuat ke permukaan air, dan submerged plants adalah tumbuhan air yang seluruh bagian tubuhnya berada dalam air (E. p. Odum, 1959)

2.4.7. Rantai Makanan

Rantai makanan merupakan terjadinya proses perpindahan energi dari proses makan dan dimakan. Aliran energi terjadi dari tumbuhan sebagai produsen dimakan oleh konsumen tingkat 1 dan konsumen tingkat 1 dimakan oleh konsumen tingkat 2 lalu konsumen tingkat 2 mati dimakan oleh detritus atau pengurai yang menguraikan organik menjadi an organik yang dibutuhkan oleh tumbuhan.

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Lokasi Pengamatan

Lokasi yang kita amati pada praktikum ekosistem perairan tergenang kali ini adalah Sungai Cihideung, yang terletak didekat kampus IPB Dramaga Bogor pada hari Minggu tanggal 29 Maret 2009 dari pukul 07.00-10.45. Keadaan lokasi yang dapat kami amati pada saat itu adalah, cuacanya cerah, udaranya lembab, sinar matahari yang teduh dan banyak pepohonan yang rindang. Warna air sungai pada saat itu adalah putih susu kecoklatan. Disekitar sungai banyak ditumbuhi oleh pohon bambu yang rimbun.

3.3. Alat dan Bahan

Alat yang kita gunakan pada praktikum ini yaitu ember 5 liter yang digunakan untuk menuangkan air kedalaman saringan planktonet yang diikatkan dengan botol film, thermometer digunakan untuk  mengukur suhu perairan, botol film digunakan untuk wadah planktonet dan perifiton, plastik putih berukuran 1 kg digunakan untuk wadah bentos, alat-alat  tulis untuk mencatat hasil praktikum, Surber yang kita gunakan untuk mengambil bentos, transek digunakan untuk membuat stasiun, benang nilon  digunakan untuk mengikat  thermometer, kertas label digunakan untuk memberi nama pada setiap hasil yang didapat. Scchidisk digunakan untuk mengukur kecerahan perairan serta dapat kita gunakan untuk mengulur kedalaman sungai. Selain itu kita menggunakan tambang atau tali rafia yang panjang untuk mengukur lebar sungai dan lebar badan sungai. Untuk mengukur kecepatan arus kita menggunakan bola pimpong yang diikat dengan tali lalu diisi air ke dalam bola pimpong tersebut.

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah lugol yang digunakan untuk mengawetkan perifiton dan plankton, formalin untuk mengawetkan bentos, sedangkan kertas pH digunakan untuk mengukur derajat keasaman (pH) dari perairan situ.

3.3. Pengambilan Sampel di Lapang

3.3.1. Penentuan Stasiun Pengamatan

Susun paralon untuk dijadikan transek yang berbentuk persegi. Lalu tentukan lokasi stasiun transek yang akan dilettakkan. Usahakan jarak antara transek 1 dan lainnya berjarak  3meter.

3.3.2. Penentuan Plot

Metoda ini dilakukan disekeliling  daerah danau/ situ yang akan kita amati.

3.3.3. Parameter Fisika

a. Warna Perairan

Warna perairan adalah warna yang tampak yang dapat kita lihat dari perairan sungai. Warna perairan dibagi menjadi dua yaitu warna tampak dan warna asli. Warna tampak adalah warna dari sebuah perairan yang disebabkan oleh partikel-partikel terlarut dan tersuspensi. Sedangkan warna asli merupakan warna yang disebabkan oleh bahan-bahan terlararut dan terbawa oleh aliran air sungai atau kondisi sekitar sungai. Carannya dengan mengamati warna air situ dengan memperhatikan keadaaan lingkungan setempat.

b. Kecerahan

Kecerahan dapat diukur dengan menggunakan alat yang bernama secchi disk. Pertama benamkan secchi disk ke dalam area transek kuadrat di tiga tempat yang berbeda. Lalu catat berapa skala yang di tunjukkan sampai secchi disk tidak terlihat (d1) dan angkat perlahan-lahan sampai secchi disk terlihat  (d2) oleh mata kita, lalu catat berapa skalanya. Masukkan data ke dalam tabel sementara.

c. Suhu

Suhu diukur dengan menggunakan thermoneter caranya ukur suhu pada tiga  tempat yang berbeda didalam area transek kuadrat : S1, S2, S3. Catat hasilnya dan masukkan data dalam tabel sementara.

d. Kedalaman Perairan

Kedalaman aliran sungai dapat diukur dengan menggunakan secchi disk karena kedalaman sungai tidak terlalu dalam. Dengan cara masukkan secchidisk ke dalam area  transek dan lihat  skala yang ditunjukkan. Lalu ukur kedalaman di tempat berbeda lainnya di dalam area transek dan catat hasilnya kemudian dicatat di dalam tabel sementara.

e. Tipe Substrat

Untuk menentukan tipe substrat, dapat dilakukan dengan metode mengambil atau mengangkat substrat dari dasar perairan mengalir,  artinya dapat diambil dengan tangan dan rasakan tipe substrat tersebut dengan tangan kita apakah substrat tersebut batu, pasir, lumpur, atau lainnya.

f. Kecepatan Arus

Untuk mengukur kecepatan arus kita menggunakan bola pimpong yang telah dilubangi dan diikat denga tali kemudian diisi oleh air. Cara kerjanya terlebih dahulu kita tetapkan Stasiun 1 dengan transek kuadrat di aliran sungai yang ada arus aliran sungainya. Kemudian siapkan stopwatch untuk menghitung kecepatan bola pimpong, lalu bola pimpong tersebut di celupkan ke aliran sungai tepat di ujung dalam transek hingga terbawa oleh arus aliran air sungai, pada saat yang bersamaan tekan stopwatch lalu stop jika bola pimpong telah sampai menyentuh ujung transek.

3.3.4. Parameter Kimia

a. pH

Dalam mengukur pH kita dapat menggunakan pH stick, dengan cara mencelupkan pH stick tersebut ke dalam air sungai di area transek kuadraat, lalu cocokkan warna pH situ dengan warna yang ada pada kotak pH stick. Catat hasilnya.

3.3.4. Parameter Biologi

a. Plankton

Dalam pengambilan plankton, alat yang digunakan adalah ember volume 5 liter serta planktonet yang ujungnya telah diikat dengan botol film, dan beberapa buah botol film. Langkah awal dalam pengambilan plankton adalah ambil air yang terdapat didalam stasiun transek kuadrat dengan menggunakan ember volume 5 liter dan tuangkan kedalam planktonet sebanyak 20 kali atau volume ember mencapai 100 liter.setelah itu lepaskan botol filem dari plankton net dan tutup kembali.

b. Perifiton

Langkah dalam pengambilan perifiton adalah dengan mengambil media yang terdapat di sekitar aliran sungai, seperti (batu, kayu yang menyangkut di batu). Kemudian, kerik media atau substrat yang di dapat dengan luas kerikan 2×2. Kemudian masukkan hasil kerikan ke dalam botol film dan di beri air. Ambil sampel perifiton sebanyak tiga kali di setiap stasiun.

c. Benthos

Dalam pengambilan bentos kita menggunakan alat yang bernama surber. Sistem kerja alat ini seperti jaring dengan cara meletakkan surber di aliran sungai yang memiliki arus, lalu kita lasukkan tangan kita ke dalam aliran air di depan surber agar benthos yang menempel pada batu dapat tertangkap oleh surber.Lakukan langkah tersebut secara diagonal dan sebanyak 3 kali di setiap stasiun.

3.4. Analisis Laboratorium dan Data

a) Kecerahan

Kecerahan dapat dicari dengan rumus:

D1 = Warna putih pada seccidisk tidak terlihat

D2 = warna putih pada seccidisk  mulai terlihat

b) Kelimpahan Plankton

Kelimpahan Plankton dapat dicari dengan rumus:

Oi = Luas cover glass (324 )

Op = Luas lapang pandang (1,306 )

Vt = Volume tersaring (30 ml)

Vo = Volume pipet tetes (0,05 ml)

Vs = Volume air €yang disaring (5L x 20 kali =100 L)

X = ulangan

P = ∑ lapang pandang

c) Kepadatan Perifiton

Kepadatan Perifiton dapat dihitung dengan rumus:

A = Luas kerikan (2×2 cm)

Oi = Luas cover glass (324 )

Op = Luas lapang pandang (1,306 )

Vt = Volume tersaring (30 ml)

Vo = Volume pipet tetes (0,05 ml)

Vs = Volume air yang disaring (5L x 20 kali =100 L)

X = ulangan

P = ∑ lapang pandang

d) Kepadatan Bentos

Kepadatan bentos dapat dicari dengan rumus:

µ = Luas bukaan paralon (0,090 )

P = ∑ lapang pandang

X = ulangan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Parameter Fisika Kimia Perairan

Parameter

Unit

SS-1

SS-2

SS-3

Fisika

Warna

Kecoklatan

Kecoklatan

Kecoklatan

Suhu

°c

26

26

26

Kedalaman

cm

10-15

14-17

18-22

Kecerahan

cm

10-15

14-17

18-22

Tipe Substrat

Pasir dan Batu

Pasir dan Batu

Pasir dan Batu

Kederasan

m/s

2,5 – 6

2,2 – 2,8

1,5 – 2,3

Kimia

pH

6

6

6

Pembahasan Parameter Fisika Kimia Perairan

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat kesamaan pada warna perairan sungai dan suhu di setiap stasiun. Kesamaan  warna perairan sungai dikarenakan substrat pada perairan sungai hampir sama dan materi yang terbawa oleh arus dari hulu tidak jauh berbeda pada setiap stasiunnya. Selain itu, letak setiap stasiun berdekatan satu sama lain sehingga warna perairan tidak memiliki perbedaan. Sedangkan kesamaan suhu di setiap stasiun dipengaruhi oleh cuaca. Pada saat melakukan pengamatan, cuaca cerah akan tetapi sinar matahari terhalang oleh rimbunnya pohon. Hal itulah yang menyebabkan suhu menjadi cenderung tetap dan tidak terlalu hangat.

Kedalaman yang diukur pada sub stasiun 1 antara 10-15 cm, sub stasiun 2 antara 14-17 cm, dan sub stasiun 3 antara 18-22 cm. Hal ini disebabkan karena pada sub stasiun 1 pengukuran kedalaman masih dilakukan di tepian sungai cihideung. Sedangkan pada sub stasiun 2 dan 3 pengukuran dilakukan lebih jauh ke tengah perairan sungai, Faktor lainnya yaitu perairan yang kami amati memiliki dasar perairan yang berbatu sehingga kedalamannya berbeda-beda. Jadi, semakin ke tengah sungai maka dasar perairan akan semakin dalam.

Stasiun yang memiliki kecerahan yang paling tinggi yaitu stasiun pertama. Hal ini disebabkan karena pada sub stasiun 1, kami melakukan pengamatan di tepian sungai yang masih dangkal sehingga kecetahan yang kami dapat sangat tinggi.

Tipe substrat yang kami amati pada stasiun 1,2 dan 3 tidak jauh beda bahkan sama yaitu berupa pasir kecil dan berbatu. Karena Sungai Cihideung merupakan sungai yang terdapat di daerah hulu yang banyak bebatuan. Yang berhubungan dengan kcepatan arus sungai / kederasan dimana sungai yang memiliki kecepatan arus > 50 cm/detik maka dasar sungai keras dan berbatu serta terdiri dari partikel-partikel besar seperti yang kita amati pada sungai Cihideung. Dari pengamatan arus yang kita lakukan pada stasiun satu kita dapat mengamati kecepatan arus sungai antara 2,5 – 6 m/s, pada stasiun dua yaitu 2,2 – 2,8 m/s dan pada stasiun tiga 1,5 -2,3 m/s. Dilihat dari kecepatan arus sungai sungai cihideung merupakan sungai yang masih berada di daerah hulu sungai. Pada satasiun satu kami melakukan pengamatan di aliran tepi sungai sehingga aliran arus sungai tidak terlalu deras disebabkan oleh daerah tepi terdapat batu besar sehingga memecah arus aliran sungai yang membuat kecepatan arus di sungai rendah. Pada stasiun dua dan tiga kami melakukan pengamatan di tengah sungai dan di ujung sungai yang terdapat aliran arus yang sangat tinggi sehingga didapat kecepatan arus pada stasiun tiga 1,5 -2,3 m/s.

4.2. Parameter Biologi

4.2.1 Plankton

Tabel 1 Kelimpahan Plankton

SPESIES

SS 1

SS 2

SS 3

UL 1

UL 2

UL 3

N

UL 1

UL 2

UL 3

N

UL 1

UL 2

UL 3

N

Nitzschia

3

1

1

5

2

2

5

9

8

10

4

22

Closterium

1

1

4

7

1

12

-

Mycrospora

1

1

-

3

3

Oedogonium

1

1

1

1

-

Maugenium

-

-

-

Diotoma

-

1

1

-

Selenstrum

-

1

1

-

Ulothrix

-

-

2

2

4

Achnanthes

-

-

3

3

Spirostonum

-

-

1

1

Cymbella

-

-

1

1

Total kelimpahan Plankton

8

24

34

Grafik 1 Kelimpahan Plankton

Grafik 2 Kelimpahan Plankton

Pembahasan Kelimpahan Plankton :

Plankton adalah organisme yang hidupnya melayang-layang dalam kolam air, pergerakannya lemah, tidak dapat melawan arus, sehingga perpindahannya lebih kurang bergantung pada gerakan air. Oleh karena itu jumlah plankton di perairan mengalir sanagtlah jarang. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa kelimpahan plankton terdapat pada stasiun 3. Pada stasiun 3 yang kami amati bahwa keadaan arus di stasiun 3 sangat rendah sehingga banyak plankton yang kami dapat.

4.2.2 Perifiton

Tabel 2 Kelimpahan Perifiton

SPESIES

SS 1

SS 2

SS 3

UL 1

UL 2

UL 3

N

UL 1

UL 2

UL 3

N

UL 1

UL 2

UL 3

N

Closterium

3

2

1

1

2

3

2

1

4

2

2

Mycrospora

5

1

2

3

1

2

1

Diotoma

1

-

5

1

5

1

2

Selenstrum

-

1

-

1

-

Ulothrix

4

1

2

-

1

-

TOTAL

16

17

17

Pembahasan Kelimpahan Perifiton :

Perifiton yang kita ketahui ialah sebagai organisme yang hidupnya menempel pada substrat baik itu pada kayu, batu ataupun pada sampah plastik. Jadi untuk mendapatkannya kita harus mengerik substrat-substrat tersebut terlebih dahulu. Pada praktikum ini kami mendapatkan perifiton pada kayu yang sudah lama terendam oleh aliran sungai.

4.2.3 Bentos

Tabel 3 Kelimpahan Bentos

SPESIES

SS 1

SS 2

SS 3

Neuston

1

Cynigma

15

2

Halesus

4

3

Cironomus

1

Grafik 3 Kelimpahan Bentos

Pembahasan Kepadatan Bentos :

Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang (Kendeigh, 1980; Odum 1993; Rosenberg dan Resh, 1993).  Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan (Lind, 1985), serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan (Odum, 1993).  Berdasarkan hasil pengamatan, kelimpahan bentos terjadi pada stasiun ke dua. Hal ini disebabkan oleh substrat batu yang terdapat pada stasiun ke dua merupakan substrat yang banyak terdapat lumutnya. Pada praktikum ini kita dapat mengambil bentos dari alat surber, karena pada perairan mengalir memiliki arus yang deras.

4.3. Interaksi Komponen Abiotik dan Biotik

Interaksi komponen abiotik dengan biotik

Interaksi antar organisme

Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita.

Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut.

a. Netral

Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara ikan betutu dengan tanaman air.

b. Predasi

Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : ikan mujair dengan mangsanya, yaitu zooplankton

c. Parasitisme

Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya. contoh : Plasmodium dengan manusia, Taeniasaginata dengan sapi, dan benalu dengan pohon inang.

d. Komensalisme

Komensalisme merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya ikan kecil yang selalu mengikuti ikan besar .

e. Mutualisme

Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri yang menempel pada tanaman air.

B. Interaksi Antarpopulasi

Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya.Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut.

Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.

Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi ikan mujair dengan populasi ikan nila di dalam situ.

C. Interaksi Antar Komunitas

Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.

Interaksi antarkomunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat. Lihat

D. Interaksi Antarkomponen Biotik dengan Abiotik

Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.

Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.

V. PEMANFAATAN DAN PERMASALAHAN SUNGAI CIHIDEUNG

Sungai cihideung menurut informasi yang kami dapat, sungai ini bersumber dari mata air gunung salak dan bermuara ke hulu sungai yang akhirnya ke laut jawa. Manfaat sungai cihideung adalah sebagai irigasi persawahan, serta dipakai untuk mencuci oleh warga sekitar. Selain itu sungai cihideung digunakan oleh warga sebagai tempat  memancing untuk mencari ikan atau untuk hobi dan sekedar melepaskan kejenuhan.Sungai cihideung juga mempunyai permasalahan, yaitu banyaknya sampah yang mengakibatkan terhambatnya arus aliran air.

Kegiatan pemanfaatan dan permasalahan yang terjadi di Sungai Cihideung mempunyai suatu keterkaitan, yaitu sebagai  saluran irigasi pertanian. Selain itu kurang bersihnya warga yang membuang kotoran ke sungai sehingga menyebabkan pasokan oksigen berkurang dan mengakibatkan banyak organisme mengalami kematian. Banyak kematian berarti kadar amoniak dalam air akan bertambah. Kadar amoniak yang terlalu besar dalam air akan semakin mengganggu kehidupan organisme lain (E. P. Odum, 1971) .

VI. KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa aliran sungai Cihideung merupakan perairan yang cukup memadai untuk melakukan kegiatan budidaya ikan.  Perairan Sungai Cihideung memilik kecerahan yang cukup tinggi. Kecerahan yang tinggi menunjukkan bahwa daya tembus cahaya matahari jauh menembus ke dalam perairan (E. P. Odum, 1971). Perairan yang memiliki kecerahan yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya aktifitas produksi. Akibatnya terjadi kelimpahan organisme (Sugiarto Suwingnyo dan Majariana Krisanti).

Kelimpahan organisme seperti plankton akan menyebabkan kelimpahan organisme lain. Kelimpahan organisme juga disebabkan oleh banyaknya unsur hara yang tersedia untuk kelangsungan hidup. Hal ini disebabkan karena lingkungan disekitar Sungai cihideung ditumbuhi banyak pepohonan yang menghasilkan banyak unsur hara. Selain itu, Sungai Cihideung juga memiliki permasalah besar dalam kegiatan budidaya, yaitu permasalahan sampah. Sampah yang bertumpuk di dalam aliran sungai Cihideung akan menyebabkan kerusakan ekosistem karena salah satu dari anggota rantai makanan ada yang mati.

Permasalahan ini merupakan permasalahan utama yang harus dipikirkan agar ekosistem sungai cihideung tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh warga sekitar. Jalan keluar yang harus dipikirkan oleh warga sekitar adalah tidak membuang sampah ke dalam sungai dengan cara mendaur ulang dan mengubah fungsi sampah tersebut. Agar pemanfaatan sungai cihideung dapat terlaksana segara optimal. demi terciptanya lingkungan yang bersih, indah, dan terpelihara.

VII. DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Odum, E.P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi. 4rd ed. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

  1. Suwigyo, Sugiarti. Widigdo, Bambang. Wardiatno, Yusli. dan Krisanti, Majariana. 2005      Avertebrata Air. 1st ed. Penebar Swadaya. Jakarta

Purba, Michael. “Sains Kimia” .1994.Erlangga. Jakarta

Makalah :

Dhani Dianthani Posted 3 May, 2003 Makalah Falsafah Sains (PPs 702) Program Pasca Sarjana /S3 Institut Pertanian Bogor

Skripsi :

Sumariatih, L. 2006. Keanekaragaman Jenis Plankton Di Perairan Danau Semayang Kabupaten Kutai Kartanegara. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman

Blog :

-erikarianto.wordpress.com/2008/01/10/ekologi-air-tawar

-library.thinkquest.org

-mac122.icu.ac.jp-gen-ed-biogeog-jpgs-lake-littoral-fig

media-2.web.britannica.com

-microbiologyprocedure.com-microbial-ecology-of-different-ecosystems-images-freshwater-pond1

-chebucto.ns.ca-ccn-inf-Science-SWCS-ZOOBENTH-BENTHOS-PIC-gastropoda_id2

LAMPIRAN

Plankton

  1. Nitzschia (SS 1) :
  1. Nitzschia (SS 2) :
  1. Closterium (SS 2) :
  1. Nitzschia (SS 3) :
  1. Mycrospora (SS 3) :
  1. Ulothrix (SS 3) :
  1. Achnanthes (SS 3) :

Perifiton

  1. Closterium (SS 1) :
  1. Mycrospora (SS 1) :
  1. Ulothrix (SS 1) :
  1. Closterium (SS 2) :
  1. Mycrospora (SS 2) :
  1. Diotoma (SS 2) :
  1. Closterium (SS 3) :
  1. Mycrospora (SS 3) :
  1. Diotoma (SS 3) :

media-2.web.britannica.com

Oleh: rijalpurwailmiawan | Mei 5, 2009

BISMANIA

OBLoVers Safari Dharma Raya
new-oh-1525-aquarium2

Oleh: rijalpurwailmiawan | Mei 5, 2009

Karakteristik Ekosistem Perairan Tergenang

Laporan Praktikum                        Hari/Tanggal  : Minggu, 15 Maret 2009

m.a. Ekologi Perairan                    Asisten            : Rahmi Dina S.Pi

Ahmad Muhtadi S.Pi

Glasnosta Ramadhan

KARAKTERISTIK EKOSISTEM PERAIRAN TERGENANG

(Studi Kasus: Situ Gede, Bogor)

Oleh:

Kelompok 2 IKN A1

Inne Veronica Duma     J3H108006

Yaumi Purwigafrina      J3H108023

Muzakir Rahim              J3H108028

Rijal Purwa Ilmiawan    J3H108032

Agung Ady Setyawan J3H108059

TEKNOLOGI PRODUKSI DAN MENEJEMEN PERIKANAN BUDIDAYA

DIRERKTORAT PROGRAM DIPLOMA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2009

I.              PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan-hubungan timbal-balik antar organisme hidup dan lingkungannya. Kata ekologi sendiri berasal dari bahasa Yunani oikos, berarti “rumah”atau “tempat untuk hidup”. Dan logos, yang berarti “ilmu”. (E. P. Odum, 1996)

Salah satu kajian dari ekologi adalah ekosistem  tempat organisme itu hidup sendiri. Ekosistem adalah satuan yang mencakup semua organisme di dalam suatu daerah lingkungan fisiknya sehingga arus energi mengarah ke struktur makanan, keanekaragaman hayati. (E. P. Odum, 1996)

Pada peraktikum ini kami mengadakan pengambilan sampel di Situ Gede, Bogor. Situ Gede merupakan perairan tergenang  yang memiliki faktor-faktor yang berpengaruh berdasarkan literatur meliputi ; Suhu, Kejernihan, Arus, Konsentrasi gas pernafasan, dan Konsentrasi garam biogenik (E. P. Odum, 1996)

Praktikum yang dilakukan pada perairan tergenang di latar belakangi karena kurangnya mahasiswa akan pengetahuan tentang ekosistem perairan tergenang dan juga kurangnya kepedulian mahasiswa untuk peduli terhadap kebersihan dan kelestarian ekosistem perairan tergenang demi keseimbangan ekositem itu sendiri. Diharapkan agar mahasiswa program keahlian Teknologi Produksi Dan Manajemen Perikanan Budidaya lebih peduli dan menjaga keseimbangan ekosistem perairan antara habitat ikan air tawar dengan teknologi budidaya perikanan.

1.2 Tujuan

Praktikum kali ini bertujuan untuk Mengenalkan dan mempelajari komponen-komponen penyusun ekosistem perairan tergenang serta Mempelajari interaksi dan hubungan timbal balik antar komponen penyusun ekosistem tersebut. Selain itu, praktikan juga Mempelajari pengaruh lingkungan terhadap komponen penyusun ekosistem terutama terhadap keanekaragaman biota didalamnya.

II.  TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ekosistem Peraian Tergenang

Ekosistem perairan tergenang (lentic)[1] merupakan bagian dari habitat air tawar. Air tergenang, atau habitat lentik ( berasal dari kata lenis yang berarti “tenang” ) seperti danau, kolam, rawa atau pasir terapung (E. P. Odum,1996). Berdasarkan banyaknya intensitas cahaya yang masuk ke dalam danau maka danau dapat dibedakan menjadi tiga zonasi yaitu; zona litoral, zona limnetik, dan zona profundal.

Gambar 1 Pembagian Zonasi Pada Perairan Tergenang ( Danau )

library.thinkquest.org-ake

Menurut proses pembentukkannya danau dapat diklasifikasikan menjadi lima yaitu:

Danau tektonik, terbentuk karena gaya tektonik baik penurunan atau penaikkan sebagian permukaan bumi sehingga terbentuk genangan air (Danau Poso, Matana, Tigi, Belida). Danau vulkanik, terbentuk karena aktivitas gunung berapi dan merupakan danau kawah atau kaldera pada ketinggian cukup tinggi (Danau Laut Tawar, Toba dan Ranu klakah). Danau patahan,  terbentuk karena adanya patahan lapisan tanah, kemudian terjadi pergeseran permukaan bumi kemudian terjadi genangan (Danau Kerinci, Tempe, Tondano). Danau Solusi, terjadi di daerah batu kapur karena adanya pematusan menjadi larut dan terjadi genangan (telaga-telaga di Gunung Kidul). Danau Fluvialtil, karena adanya pengendapan pasir atau lumpur di dataran rendah, sehingga membendung aliran air kemudian menggenang (sungai-sungai besar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua) ikanlaut-unsoed.ac.id/node/289 – 81k.

Selain itu danau berfungsi sebagai sumber keanekaragaman hayati digunakan untuk irigasi, sistem pengendali banjir, tempat budidaya perikanan dan juga dapat digunakan sebagai sarana rekreasi.

Keterangan:

Zona litoral merupakan daerah perairan yang dangkal dengan penetrasi cahaya sampai ke dasar sehingga merupakan habitat dari tumbuhan air dan binatang daerah litoral seperti Typha, Scirpus, Sagittaria spp, Nymphaea dll untuk jenis tamnaman air dan Lymnaea columella,Physa gyrina, Hemiptera untuk binatang daerah litoral. Zona limnetik adalah daerah air terbuka sampai kedalaman penetrasi dimana fotosintesis seimbang dengan respirasi, zona ini merupakan habitat dari plankton,nekton dan terkadang neuston. Zona profundal adalah daerah dasar air yang dalam yang tidak tercapai oleh sinar matahari, sehingga merupakan habitat dari bentos. Zona-zona tersebut ternyata memiliki fungsi ekologi yang amat penting dalam ekosistem danau, Zona litoral dan limnetik merupakan daerah produsen penghasil energi, sedangkan zona profundal merupakan zona daur ulang (pengurai) hewan air yang sudah mati.

2.2 Parameter Fisika

2.2.1. Warna Perairan

Warna perairan adalah warna yang secara visual yang dapat kita lihat dari sebuah perairan. Warna perairan dibagi menjadi dua yaitu warna tampak dan warna asli. Warna tampak adalah warna dari sebuah perairan yang disebabkan oleh partikel-partikel terlarut dan tersuspensi. Sedangkan warna asli merupakan warna yang disebabkan oleh bahan-bahan terlarut dari danau atau kondisi sekitar danau.

Warna perairan dipengaruhi oleh kedalaman. Biasanya, jenis substrat juga mempengaruhi warna perairan, dipinggir biasanya berwarna gelap atau keruh, sedangkan didaerah tengah lebih terang. Semakin dalam suatu perairan maka semakin pekat warna perairan (E. P. Odum, 1971)

2.2.2. Kecerahan

Dalam hal ini kecerahan merupakan parameter fisika yang berhubungan dengan fotosintesis karena pengaruh penetrasi cahaya yang masuk ke dalam situ.

Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa, dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman. Kekeruhan, terutama bila disebabkan oleh lumpur dan partikel yangdapat mengendap, seringkali penting sebagai faktor pembatas. Sebaliknya, bila kekeruhan disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktivitas (E. P. Odum, 1971)

2.2.3. Suhu

Suhu berpengaruh terhadap ekosistem karena suhu merupakan syarat yang diperlukan organisme untuk hidup.  Ada jenis-jenis organisme yang hanya dapat hidup pada kisaran suhu  tertentu.

Daerah perairan yang cukup luas dapat mempengaruhi iklim daerah daratan di sekitarnya.Suhu air paling baik dan efisien diukur menggunakan sensor elektronis seperti Air mempunyai beberapa sifat unik yang berhubungan dengan panas yang secara bersama-sama mengurani perubahan suhu sampai tingkat minimal, sehina perbedaan suhu dalam air lebih kecil dan perubahan yang terjadi lebih lambat dari pada udara. Sifat yang terpenting adalah :

    • Panas jenis yang tinggi, relatif sejumlah besar panas dinutuhkan untuk merubah suhu air. 1 gram kalori (gkal) panas dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1 ml (=1 gram) air 10 C lebih tinggi (antara 15-160) hanya amonia dan beberapa senyawa lain mempunyai nilai lebih dari satu.
    • Panas fusi yang tinggi. 80 kalori dibutuh kan untuk mengubah 1 gram es menjadi air tanpa mengubah suhunya (dan sebaliknya).
    • Panas evaporasi yang tingi. 536 kalori diserap sewaktu evaporasi yang dapat dikatakan berlangsun terus menerus dari permukaan vegetasi , air dan es, sebagian besar sinar matahari digunakan untuk evaporasi air dari ekosistem didunia, dan alur energi ini mengubah iklim dan memungkinkan perkembangan kehidupan dalam semua keanekaragaman yang menakjubkan.
    • Kerapatan air tertinggi terjadi pada suhu 40 C ; diatas dan dibawah titik tersebut air akan berkembang dan menjadi lebih ringan. Sifat unik ini menyebabkan aira danau tidak membeku seluruhnya pada musim dingin.

Walaupun variasi suhu dalam air tidak sebesar di udara, hal ini merupakan faktor pembatas utama, karena organisme akuatik seringkali mempunyai toleransi yang sempit ( stenotermal ). Maka, walaupun terjadi populasi panas yang sedang oleh manusia, akibatnya dapat amat luas. Perubahan suhu menyebabkan pola sirkulasi yang khas dan stratifikasi, yang amat mempengaruhi kehidupan akuatiktermistor. Pembacaan dan pencatatan langsung dari termistor memudahkan para pemula untuk mengambil profil suhu dari habitat akuatik (erikarianto.wordpress.com/2008/01/10/ekologi-air-tawar).

2.2.4.  Kedalaman

Kedalaman suatu ekosistem perairan dapat bervariasi tergantung pada zona kedalaman dari suatu perairan tersebut, semakin dalam perairan tersebut maka intensitas cahaya matahari yang masuk semakin berkurang. Penetrasi cahaya seringkali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa, dimana habitat akuatik dibatasi oleh kedalaman (erikarianto.wordpress.com/2008/01/10/ekologi-air-tawar).

2.2.5. Tipe Substrat

Tipe substrat pada perairan air tawar biasanya berupa lumpur, pasir, dan batu. Substrat yang terlalu lunak tidak cocok bagi bentos dan perifiton yang hidup di permukaan dan dalam dasar perairan (E. P. Odum, 1996). Substrat berupa lumpur terjadi karena perpaduan antara air dan tanah yang terdapat di dasar perairan dan hasil dari penguraian oleh detrivor juga berupa lumpur (Yonvitner, S. pi. M. Si).

2.3. Parameter Kimia

2.3.1.  Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) merupakan parameter kimia yang menunjukan salinitas atau drajat keasaman dari suatu perairan dimana biota air dapat hidup didalamnya, pH yang ideal berkisar antar 6,5-8,5. Dimana setiap organisme air memiliki toleransi pH yang berbeda. Larutan atau air dikatakan asam jika pH-nya < 7, dikatan basa jika pH-nya > 7, sedangkan jika pH-nya = 7 maka larutan tersebut dikatakan seimbang (Purba,Michael.1994“Dasar-dasar Kimia” .Erlangga.Jakarta).

2.4. Parameter Biologi

2.4.1. Plankton

Plankton adalah hewan air yang hidup mengapung di atas permukaan air dimana pergerakannya tergantung pada arus. Sehingga gerakan hidupnya tergantung pada arus atau gelombang pada air.

Plankton terbagi menjadi Fitoplankton dan Zooplankton. Fitoplankton terdiri atas ganggang, diatom, dan dinoflagelata. Zooplankton biasanya terdiri atas rotifera, cladocera, copepoda (Sugiarti Suwingnyo dan Majariana Krisanti, “Avertebrata Air”).

Plankton adalah organisme yang berkuran kecil yang hidupnya terombang-ambing oleh arus. Mereka terdiri dari makhluk yang hidupnya sebagai hewan (zooplankton) dan sebagai tumbuhan (fitoplankton). Menurut Nybakken (1992) zooplankton ialah hewan-hewan laut yang planktonik sedangkan fitoplankton terdiri dari tumbuhan laut yang bebas melayang dan hanyut dalam laut serta mampu berfotosintesis. Plankton merupakan makanan alami larva organisme perairan. Sebagai produsen utama di perairan adalah fitoplankton, sedangkan organime konsumen adalah zooplankton, larva, ikan, udang, kepiting, dan sebagainya. Menurut Djarijah (1995), produsen adalah organisme yang memiliki kemampuan untuk menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi dalam melakukan aktivitas hidupnya, sedangkan konsumen adalah organisme yang menggunakan sumber energi yang dihasilkan oleh organisme lain (Dhani Dianthani Posted 3 May, 2003 Makalah Falsafah Sains (PPs 702) Program Pasca Sarjana /S3 Institut Pertanian Bogor).

2.4.2. Perifiton

Perifiton merupakan hewan yang ukurannya sangat kecil (mikroskopis), oleh karena itu perifiton tidak dapat dilihat oleh mata tanpa bantuan mikroskop.

Perifiton adalah tumbuhan atau hewan yang tumbuh dan menempel pada objek yang tenggelam (E. P. Odum, 1998).

2.4.3. Benthos

Gambar 3 Organisme Bentos

media-2.web.britannica.com

Bentos merupakan organisme yang melekat atau beristirahat pada dasar endapan. Bentos dapat dibagi berdasarkan makananya menjadi pemakan penyaring seperti (kerang) dan pemakan deposit seperti ( siput ) (E. P. Odum, 1971). Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya.  Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu. karena hewan bentos terus menerus terdedah oleh air yang kualitasnya berubah-ubah (Oey, et al1., 1978).  Diantara hewan bentos yang relatif mudah diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro.  Kelompok ini lebih dikenal dengan makrozoobentos (Rosenberg dan Resh, 1993).

Makrozoobentos mempunyai peranan yang sangat penting dalam siklus nutrien di dasar perairan.  Montagna et all.  (1989) menyatakan bahwa dalam ekosistem perairan, makrozoobentos berperan sebagai salah satu mata rantai penghubung dalam aliran energi dan siklus dari alga planktonik sampai konsumen tingkat tinggi.

Gambar 3 Contoh Hewan Bentos

microbiologyprocedure.com-microbial-ecology-of-different-ecosystems-images-freshwater-pond1

Bentos meliputi segala macam avertebrata air yang hidup di permukaan dasar perairan atau di dalam sedimen dasar perairan. Dasar perairan dapat berupa lumpur, batu, kerikil, baik di laut, sungai, maupun danau (Sugiarto Suwingnyo dan Majariana Krisanti).

Istilah benthos digunakan untuk menggambarkan setiap organisme yang hidup di dasar. Sedimen yang terdapat di dasr zona profundal juga menunjangpopulasi besar dari bakteri dan fungi. Pembusuk ini menguraikan bahan organic yang mencapainya, membebaskan nutrien organik untuk daur ulang (Sumariatih, L. 2006. Keanekaragaman Jenis Plankton Di Perairan Danau Semayang Kabupaten Kutai Kartanegara. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman)

2.4.4. Nekton

Nekton merupakan organisme yang dapat bergerak dan nerenang dengan kemauan sendiri (dengan demikian dapat menghindari jaring plankton) contohnya seperti ikan, amfibi, serangga air besar dll (E. P. Odum, 1998)

2.4.5. Neuston

Organisme yang tinggal atau beristirahat di atas permukaan air, yang pergerakannya tidak di pengaruhi oleh pergerakan arus (E. P. Odum, 1998)

2.4.6. Tumbuhan Air

Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggal di sekitar air dan di dalam air. Yang berfungsi sebagai produsen penghasil energi.

Tumbuhan air dapat dikelompokkan menjadi terrestrial plants adalah tumbuhan air yang seluruh organ tubuhnya belum tertutup oleh air, emerged plants adalah tumbuhan air yang akarnya berada dalam air dan bagian lainnya berada dipermukaan air, floating plants adalah tumbuhan air yang bagian akar dan batangnya berada dalam air , sedangkan daunnya mencuat ke permukaan air, dan submerged plants adalah tumbuhan air yang seluruh bagian tubuhnya berada dalam air (E. p. Odum, 1959)

2.4.7. Rantai Makanan

Rantai makanan merupakan terjadinya proses perpindahan energi dari proses makan dan dimakan. Aliran energi terjadi dari tumbuhan sebagai produsen dimakan oleh konsumen tingkat 1 dan konsumen tingkat 1 dimakan oleh konsumen tingkat 2 lalu konsumen tingkat 2 mati dimakan oleh detritus atau pengurai yang menguraikan organik menjadi an organik yang dibutuhkan oleh tumbuhan.

III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Lokasi Pengamatan

Lokasi yang kita amati pada praktikum ekosistem perairan tergenang kali ini adalah Situ Gede, yang terletak didekat kampus IPB Dramaga Bogor pada hari Minggu tanggal 15 Maret 2009 dari pukul 07.00-10.45. Keadaan lokasi yang dapat kami amati pada saat itu adalah, cuacanya cerah, udaranya lembab, sinar matahari yang teduh dan banyak pepohonan yang rindang. Warna air situ pada saat itu adalah penduduk.

3.2. Alat dan Bahan

Alat  yang kita gunakan pada praktikum ini yaitu ember 5 liter yang digunakan untuk menuangkan air kedalaman saringan plankton net yang diikatkan dengan botol film, pipa paralon berdiameter 9,5 cm dengan tinggi 2 m digunakan untuk mengukur kedalaman perairan, thermometer digunakan untuk  mengukur suhu perairan, botol film digunakan untuk wadah planktonet dan perifiton, plastik putih berukuran 1 kg digunakan untuk wadah bentos, alat-alat  tulis untuk mencatat hasil praktikum, bola pimpong yang diikat dengan benang untuk mengukur arus, transek kuadrat digunakan untuk membuat plot area, benang nilon  digunakan untuk mengikat  thermometer, kertas label digunakan untuk memberi nama pada setiap hasil yang didapat. Scchidisk digunakan untuk mengukur kecerahan perairan dan tali tambang untuk mengukur lebar dan badan sungai.

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah lugol yang digunakan untuk mengawetkan perifiton dan plankton, formalin untuk mengawetkan bentos, aquades digunakan untuk menambahkan cairan pada plankton dan perifiton sebelum diberi larutan lugol, sedangkan kertas pH digunakan untuk mengukur derajat keasaman (pH) dari perairan sungai.

3.3. Pengambilan Sampel di Lapang

3.3.1. Penentuan Stasiun Pengamatan

Susun paralon untuk dijadikan transek yang berbentuk persegi. Lalu tentukan lokasi stasiun transek yang akan diletakkan. Usahakan jarak antara transek 1 dan lainnya berjarak  3meter.

3.3.2. Penentuan Plot

Metoda ini dilakukan disekeliling  daerah sungai yang akan kita amati.

3.3.3. Parameter Fisika

a. Warna Perairan

Warna perairan adalah warna yang tampak yang dapat kita lihat dari sebuah situ. Warna perairan dibagi menjadi dua yaitu warna tampak dan warna asli. Warna tampak adalah warna dari sebuah perairan yang disebabkan oleh partikel-partikel terlarut dan tersuspensi. Sedangkan warna asli merupakan warna yang disebabkan oleh bahan-bahan terlarut dari sungai atau kondisi sekitar sungai. Carannya dengan mengamati warna air sungai dengan memperhatikan keadaaan lingkungan setempat.

b. Kecerahan

Kecerahan dapat diukur dengan menggunakan  secchi disk. Pertama benamkan secchi disk ke dalam area transek kuadrat di tiga tempat yang berbeda. Lalu catat berapa skala yang di tunjukkan sampai secchi disk tidak terlihat (d1) dan angkat perlahan-lahan sampai secchi disk terlihat  (d2) oleh mata kita, lalu catat berapa skalanya. Masukkan data ke dalam  tabel sementara.

c. Suhu

Suhu diukur dengan menggunakan thermoneter caranya ukur suhu pada tiga  tempat yang berbeda didalam area transek kuadrat : S1, S2, S3. Catat hasilnya dan masukkan data dalam tabel sementara.

d. Kedalaman Perairan

Kedalaman perairan diukur dengan menggunakan pipa paralon berdiameter 9,5 cm dengan tinggi 2 m. Dengan cara masukkan paralon ke dalam area  transek dan lihat  skala yang ditunjukkan. Lalu ukur kedalaman di tempat berbeda lainnya di dalam area transek dan catat hasilnya kemudian dicatat di dalam tabel sementara.

e. Tipe Substrat

Untuk menentukan tipe substrat, dapat dilakukan dengan metode mengambil atau mengangkat substrat dari dasar perairan,  artinya dapat diambil dengan tangan dan rasakan tipe substrat tersebut dengan tangan kita apakah substrat tersebut pasir, lumpur, atau lainnya.

3.3.4. Parameter Kimia

a. pH

Dalam mengukur pH kita dapat menggunakan pH stick, dengan cara mencelupkan pH stick tersebut ke dalam air sungai di area transek kuadraat, lalu cocokkan warna pH stik yang telah dicelupkan  dengan warna yang ada pada kotak pH stick. Catat hasilnya.

3.3.4. Parameter Biologi

a. Plankton

Dalam pengambilan plankton, alat yang digunakan adalah ember volume 5 liter serta planktonet yang ujungnya telah diikat dengan botol film, dan beberapa buah botol film. Langkah awal dalam pengambilan plankton adalah ambil air dengan menggunakan ember volume 5 liter dan tuangkan kedalam planktonet sebanyak 20 kali atau volume ember mencapai 100 liter.setelah itu lepaskan botol filem dari plankton net dan tutup kembali.

b. Perifiton

Langkah dalam pengambilan perifiton adalah dengan mengambil media yang terdapat di dasar situ., seperti (batu, plastik, daun, dan benda lain yang sudah terbenam). Kemudian, kerik media atau substrat yang di dapat dengan luas kerikan 2×2. Kemudian masukkan hasil kerikan ke dalam botol film dan di beri air. Ambil sampel perifiton sebanyak tiga kali di setiap stasiun.

c. Benthos

Dalam pengambilan bentos  alat yang digunakan adalah` pipa paralon berskala 6 cm, saringan bentos, dan plastik putih ukuran 1 kg. Lalu tancapkan  pipa paralon sampai ke dasar perairan, tutup bagian mulut pipa paralon, tarik pipa paralon ke permukaan, dan tuangkan ke dalam saringan bentos. Kemudian saring hasil  dari saringan tersebut sampai lumpur yang masih melekat pada bentos bersih. Kemudian, dimasukkan hasil saringan yang sudah bersih  itu ke dalam plastik putih ukuran 1 kg. Lakukan langka tersebut secara diagonal dan sebanyak 3 kali di setiap stasiun.

3.4. Analisis Laboratorium dan Data

a) Kecerahan

Kecerahan dapat dicari dengan rumus:

D1 = Warna putih pada seccidisk tidak terlihat

D2 = warna putih pada seccidisk  mulai terlihat

b) Kelimpahan Plankton

Kelimpahan Plankton dapat dicari dengan rumus:

Oi = Luas cover glass (324 )

Op = Luas lapang pandang (1,306 )

Vt = Volume tersaring (30 ml)

Vo = Volume pipet tetes (0,05 ml)

Vs = Volume air €yang disaring (5L x 20 kali =100 L)

X = ulangan

P = ∑ lapang pandang

c) Kepadatan Perifiton

Kepadatan Perifiton dapat dihitung dengan rumus:

A = Luas kerikan (2×2 cm)

Oi = Luas cover glass (324 )

Op = Luas lapang pandang (1,306 )

Vt = Volume tersaring (30 ml)

Vo = Volume pipet tetes (0,05 ml)

Vs = Volume air yang disaring (5L x 20 kali =100 L)

X = ulangan

P = ∑ lapang pandang

d) Kepadatan Bentos

Kepadatan bentos dapat dicari dengan rumus:

µ = Luas bukaan paralon (0,090 )

P = ∑ lapang pandang

X = ulangan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Parameter Fisika Kimia Perairan

Parameter

Unit

SS-1

SS-2

SS-3

Fisika

Warna

Hijau kecoklatan

Hijau kecoklatan

Hijau kecoklatan

Suhu

°c

28

28

27-28

Kedalaman

cm

105-109

127-144

125-140

Kecerahan

cm

35-75

30-60

50-75

Tipe Substrat

Lumpur Halus

Lumpur Halus

Lumpur Halus

Kimia

pH

5

5

5

Pembahasan Parameter Fisika Kimia Perairan

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat kesamaan pada warna perairan dan suhu di setiap stasiun. Kesamaan  warna perairan dikarenakan substrat pada perairan tidak terlalu banyak yang larut karna keadaan air yang tenang. Selain itu, letak setiap stasiun berdekatan satu sama lain sehingga warna perairan tidak memiliki perbedaan. Sedangkan kesamaan suhu di setiap stasiun dipengaruhi oleh cuaca. Pada saat melakukan pengamatan, cuaca cerah akan tetapi sinar matahari terhalang oleh rimbunnya pohon. Hal itulah yang menyebabkan suhu menjadi cenderung tetap dan tidak terlalu hangat.

Kedalaman yang diukur pada sub stasiun 1 antara 105-109, sub stasiun 2 antara 127-144, dan sub stasiun 3 antara 125-140. Hal ini disebabkan karena pada sub stasiun 1 pengukuran kedalaman masih dilakukan di tepian situ. Sedangkan pada sub stasiun 2 dan 3 pengukuran dilakukan lebih jauh ke tengah perairan, Faktor lainnya yaitu perairan yang kami amati memiliki dasar perairan yang landai. Jadi, semakin ke tengah maka dasar perairan akan semakin dalam.

Stasiun yang memiliki kecerahan yang paling tinggi yaitu stasiun kedua. Hal ini disebabkan karena pada sub stasiun 2, substrat dasar perairan belum tercampur dengan air yang bisa mengakibatkan air mengeruh. Pergerakan yang kami lakukan juga lebih tenang daripada sub stasiun 1 dan 2. Pada zona ini, peristiwa penetrasi cahaya sampai ke dasar perairan yang dangkal (E. P. Odum, 1996). Substrat pada ketiga stasiun adalah lumpur halus. Biasanya, perairan tergenang memiliki substrat berupa lumpur, yang dihasilkan dari campuran air dan tanah pada dasar serta hasil penguraian oleh detrivor berupa lumpur (Yonvitner, S. pi, M. Si). Pengukuran pH menunjukan angka 5, padahal Nilai pH yang ideal untuk perairan adalah berkisar 6,5-8,5 dimana organisme air dapat memliki kemampuan toleransi (Pescod, 1973). Hal inilah yang mungkin mengkibatkan kurangnya keanekaragaman biota yang terdapat di perairan situ yang kami amati.

4.2. Parameter Biologi

4.2.1 Plankton

Tabel 1 Kelimpahan Plankton

Spesies

SS1

SS2

SS3

U1

U2

U3

N

U1

U2

U3

N

U1

U2

U3

N

Binuclearia takrana

6

14

8

9.3

3

5

9

5.7

5

26

7

12.7

Total

28

17

38

Rhizoclonium

3

0

2

1.7

3

6

1

3.3

2

2

0

1.3

Total

5

10

4

Grafik 1 Kelimpahan Plankton

Pembahasan Kelimpahan Plankton :

Plankton adalah organisme yang hidupnya melayang-layang dalam kolam air, pergerakannya lemah, tidak dapat melawan arus, sehingga perpindahannya lebih kurang bergantung pada gerakan air. Dilihat secara horizontal plankton banyak terdapat didaerah neritik zone, dan jika dilihat secara vertikal plankton banyak terdapat didaerah euphotik zone dengan suhu 24-27 0C. Didaerah tersebut merupakan daerah yang kaya akan unsur hara, nutrient, dan cahaya matahari yang amat dibutuhkan oleh fitoplankton untuk berproduksi dengan cara berfotosintesis. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa kelimpahan plankton terdapat pada stasiun 3. Pada stasiun 3 yang kami amati bahwa kecerahan di stasiun 3 sangat tinggi sehingga banyak plankton yang kami dapat. . Semakin tinggi kecerahan suatu perairan, maka aktifitas produksi yang terjadi akan semakin tinggi. Akibatnya, terjadi kelimpahan organisme baik fitoplankton, zooplankton, maupun makhluk lain (Sugiarto Suwingnyo dan Majariana Krisanti). Plankton dalam suatu perairan mempunyai peranan yang sangat penting. Plankton merupakan mata rantai utama dalam rantai makanan di perairan (Sumariatih, L. 2006).

4.2.2 Perifiton

Perifiton yang kita ketahui ialah sebagai organisme yang hidupnya menempel pada substrat baik itu pada kayu, batu ataupun pada sampah plastik. Jadi untuk mendapatkannya kita harus mengerik substrat-substrat tersebut terlebih dahulu. Pada percobaan ini kami tidak mendapatkan sampel perifiton dikarenakan kesalahan dalam pengambilan sampel, sehingga pada saat uji labolatorium yang kita amati tidak kami temukan spesies dari perifiton.

4.2.3 Bentos

Tabel 2 Kelimpahan Bentos

Spesies SS1 SS2 SS3

Bentos

Kerang

2

6

0

Keong Kecil

5

4

0

Keong Sedang

1

1

0

Total

8

11

0

Grafik 2 Kelimpahan Bentos

Pembahasan Kepadatan Bentos :

Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang (Kendeigh, 1980; Odum 1993; Rosenberg dan Resh, 1993).  Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan (Lind, 1985), serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan (Odum, 1993).  Berdasarkan hasil pengamatan, kelimpahan bentos terjadi pada stasiun pertama. Hal ini disebabkan oleh substrat yang terdapat pada stasiun pertama merupakan jenis lumpur yang sedikit keras. Pada perairan dengan substrat dasar perairan berupa lumpur lunak, tidak sesuai dengan bentos (E. P. Odum, 1996). Selain itu, stasiun pertama juga memiliki kecerahan yang tinggi, dimana cahaya matahari menembus perairan sampai ke dasar. Kecerahan yang tinggi menyebabkan banyak atau tingginya aktifitas produksi (Sugiarto Suwingnyo dan Majariana Krisanti).

4.3. Interaksi Komponen Abiotik dan Biotik

Interaksi komponen abiotik dengan biotik

Interaksi antar organisme

Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Interaksi demikian banyak kita lihat di sekitar kita.

Interaksi antar organisme dalam komunitas ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat. Interaksi antarorganisme dapat dikategorikan sebagai berikut.

a. Netral

Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara ikan betutu dengan tanaman air.

b. Predasi

Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : ikan mujair dengan mangsanya, yaitu zooplankton

c. Parasitisme

Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya. contoh : Plasmodium dengan manusia, Taeniasaginata dengan sapi, dan benalu dengan pohon inang.

d. Komensalisme

Komensalisme merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya ikan kecil yang selalu mengikuti ikan besar .

e. Mutualisme

Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri yang menempel pada tanaman air.

B. Interaksi Antarpopulasi

Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya.Contoh interaksi antarpopulasi adalah sebagai berikut.

Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.

Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi ikan mujair dengan populasi ikan nila di dalam situ.

C. Interaksi Antar Komunitas

Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.

Interaksi antarkomunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat.

D. Interaksi Antarkomponen Biotik dengan Abiotik

Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi.

Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.

V. PEMANFAATAN DAN PERMASALAHAN SITU GEDE

  1. Situ Gede menurut informasi yang kita dapat dari hasil wawancara dengan Bpk. Hj Ganda sebagai warga dan tokoh masyarakat setempat, tempat ini pada jaman belanda dahulunya rawa, kemudian alirannya dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mengairi sawah, penampungan air, dan irigasi lahan-lahan pertanian milik warga sendiri. Manfaat utama dari Situ Gede adalah sebagai tempat penampungan debit air yang melimpah saat musim hujan dan sebagai hutan lindung di daerah setempat. Selain itu, situ gede sekarang ini dimanfaatkan sebagai tempat wisata dan area memancing untuk menyalurkan hobi memancing., Situ Gede juga mempunyai permasalahan, yaitu banyaknya sampah yang mengakibatkan terhambatnya arus onlet dan outlet, serta tingkat pH yang    cukup asam sehingga mengurangi banyaknya keaneka ragaman biota yang ada di perairan situ.

Kegiatan pemanfaatan dan permasalahan yang terjadi di Situ Gede mempunyai suatu keterkaitan, yaitu sebagai penampung air pada saat hujan, kondisi air tidak akan pernah stabil. Selain itu, pemakaian air yang berlebihan pada musim kemarau menyebabkan debit air menjadi berkurang dan terjadi kerapatan organisme. Terjadinya kerapatan juga menyebabkan pasokan oksigen berkurang dan mengakibatkan banyak organisme mengalami kematian. Banyak kematian berarti kadar amoniak dalam air akan bertambah. Kadar amoniak yang terlalu besar dalam air akan semakin mengganggu kehidupan organisme lain (E. P. Odum, 1971) .

VI. KESIMPULAN

Berdasarkan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa perairan Situ Gede merupakan perairan yang cukup memadai untuk melakukan kegiatan budidaya ikan.  Perairan Situ Gede memilik kecerahan yang cukup tinggi. Kecerahan yang tinggi menunjukkan bahwa daya tembus cahaya matahari jauh menembus ke dalam perairan (E. P. Odum, 1971). Perairan yang memiliki kecerahan yang tinggi akan menyebabkan meningkatnya aktifitas produksi. Akibatnya terjadi kelimpahan organisme (Sugiarto Suwingnyo dan Majariana Krisanti).

Kelimpahan organisme seperti plankton akan menyebabkan kelimpahan organisme lain. Kelimpahan organisme juga disebabkan oleh banyaknya unsur hara yang tersedia untuk kelangsungan hidup. Hal ini disebabkan karena lingkungan disekitar Situ Gede ditumbuhi banyak pepohonan yang menghasilkan banyak unsur hara. Selain itu, Situ Gede juga memiliki permasalah besar dalam kegiatan budidaya, yaitu permasalahan sampah. Sampah yang bertumpuk di dalam Situ Gede akan menyebabkan kerusakan ekosistem karena salah satu dari anggota rantai makanan ada yang mati.

Permasalahan ini merupakan permasalahan utama yang harus dipikirkan agar ekosistem danau situ gede tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh warga sekitar. Jalan keluar yang harus dipikirkan oleh warga sekitar adalah tidak membuang sampah ke dalam situ dengan cara mendaur ulang dan mengubah fungsi sampah tersebut. Agar pemanfaatan perairan Situ Gede dapat terlaksana segara optimal. demi terciptanya lingkungan yang bersih, indah, dan terpelihara.

VII. DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Odum, E.P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi. 4rd ed. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

  1. Suwigyo, Sugiarti. Widigdo, Bambang. Wardiatno, Yusli. dan Krisanti, Majariana. 2005      Avertebrata Air. 1st ed. Penebar Swadaya. Jakarta

Purba,Michael.1994“Dasar-dasar Kimia” .Erlangga.Jakarta

Skripsi :

Sumariatih, L. 2006. Keanekaragaman Jenis Plankton Di Perairan Danau Semayang Kabupaten Kutai Kartanegara. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman

Blog :

http// erikarianto.wordpress.com/2008/01/10/ekologi-air-tawar

http// library.thinkquest.org

http// mac122.icu.ac.jp-gen-ed-biogeog-jpgs-lake-littoral-fig

http// media-2.web.britannica.com

http// microbiologyprocedure.com-microbial-ecology-of-different-ecosystems-images-freshwater-pond1

http// chebucto.ns.ca-ccn-inf-Science-SWCS-ZOOBENTH-BENTHOS-PIC-gastropoda_id2

http// ikanlaut-unsoed.ac.id/node/289 – 81k.

Materi kuliah:

“Perairan Tergenang” Yonvitner, S. pi. M. Si

LAMPIRAN

Kecerahana

  1. Kecerahan (SS1-1) :

  1. Kecerahan (SS1-2) :
  1. Kecerahan (SS1-3) :
  1. Kecerahan (SS1) :
  1. Kecerahan (SS2-1) :
  1. Kecerahan (SS2-2) :
  1. Kecerahan (SS2-3) :
  1. Kecerahan (SS2) :
  1. Kecerahan (SS3-1) :

10.  Kecerahan (SS3-2) :

11.  Kecerahan (SS3-3) :

12.  Kecerahan (SS3) :

Kedalaman

  1. Kedalaman (SS1-1) :
  1. Kedalaman (SS1-2) :
  1. Kedalaman (SS1-3) :
  1. Kedalaman (SS1) :
  1. Kedalaman (SS2-1) :
  1. Kedalaman (SS2-2) :
  1. Kedalaman (SS2-3) :
  1. Kedalaman (SS2) :
  1. Kedalaman (SS3-1) :

10.  Kedalaman (SS3-2) :

11.  Kedalaman (SS3-3) :

12.  Kedalaman (SS3) :

Kelimpahan Plankton

  1. Fitoplankton (SS1) :
  1. Fitoplankton (SS2) :
  1. Fitoplankton (SS3) :
  1. Zooplankton (SS1) :
  1. Zooplankton (SS2) :
  1. Zooplankton (SS3) :

Kepadatan Bentos

  1. Kerang (SS1) :
  1. Keong kecil (SS1) :
  1. Keong sedang (SS1) :
  1. Kerang (SS2) :
  1. Keong kecil (SS2) :
  1. Keong sedeng (SS2) :
  1. Kerang (SS3) :
  1. Kerong kecil (SS3) :
  1. Keong sedang (SS3) :

a. Lokasi pengambilan sampling

Gambar 4 Suasana Situ Gede Pada Pagi Hari

b. Kegiatan dilapangan

Gambar 5 Kegiatan Di Lapangan


[1](Lotic) meliputi seluruh perairan darat yang airnya tidak mengalir secara terus-menerus atau tergenang (pergerakan hanya disebabkan karena ombak atau aliran pada inlet maupun outlet.

Oleh: rijalpurwailmiawan | Mei 5, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.